PENDIDIKAN DAN PANDUAN
Sabtu, 21 Maret 2026
KERUSAKAN SOLIDARITA MEMBUTUHKAN PROSES SIMBOLIK
2UEJ1Q6I3
Sipil yang menguraikan cara masyarakat memperbaiki kerusakan moral & sosial. Ia menjelaskan bahwa masyarakat modern selalu mengalami “kerusakan solidaritas” dan membutuhkan proses simbolik & institusional untuk memperbaikinya.
Social repair berangkat dari asumsi bahwa dalam kehidupan sosial, keretakan itu normal. Keretakan bisa berupa konflik interpersonal (misalnya pertengkaran keluarga), ketegangan sosial (antar kelompok, kelas, atau komunitas), pelanggaran norma (ketidakjujuran, pengkhianatan, dll), jarak sosial (karena urbanisasi, migrasi, atau kesibukan). Yang diperbaiki bukan hanya hubungan antarindividu, tetapi juga kepercayaan (trust), rasa keadilan, rasa kebersamaan (solidarity).
Tanpa mekanisme perbaikan, masyarakat bisa mengalami disintegrasi sosial, polarisasi atau konflik berkepanjangan, hilangnya kepercayaan sosial
Karena itu, social repair penting untuk menjaga stabilitas sosial, kohesi sosial, dan keberlanjutan komunitas.
Mekanisme perbaikan sosial dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain:
Pertama, mekanisme simbolik. Ini adalah bentuk yang paling umum dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan permintaan dan pemberian maaf, ritual rekonsiliasi yang dapat disimbulkan dengan berjabat tangan, berpelukan, atau lainnya. Fungsinya yaitu untuk memulihkan hubungan emosional dan moral.
Kedua, mekanisme kultural/ritual, yaitu budaya sering menyediakan “wadah” untuk memperbaiki relasi: tradisi silaturahmi, halal bihalal, upacara adat rekonsiliasi. Ciri utamanya dilakukan secara kolektif dan berulang (ritualized). Ketiga, mekanisme interaksional, melalui interaksi sosial sehari-hari, misalnya berkumpul kembali, makan bersama, percakapan informal, dll. Ini terlihat sederhana, tetapi penting untuk mengurangi jarak sosial dan membangun ulang kedekatan.
Di era digital dimana medsos dapat mempermudah keterhubungan sosial, Idulfitri dan mudik tetap memiliki relevansi. Satu sisi medsos memberi kemudahan bahwa interaksi tidak harus secara fisik: bersilaturahim dapat dilakukan dari jarak jauh, komunikasi lintas kota/ negara, chat grup dapat digunakan untuk menjaga koneksi harian. Namun, pada sisi yang lain medsos membawa pelemahan kohesi sosial karena interaksi yang dangkal, simbolik (ucapan copy-paste, formalitas digital). Yang terjadi adalah “pseudo-connection”, terlihat terhubung, tapi tidak benar-benar dekat. Risikonya kohesi sosial menjadi artifisial.
Dalam konteks Indonesia, silaturrahim dan halal bihalal saat Idulfitri berfungsi sebagai social repair mechanism yang cukup efektif karena setiap pribadi sangat terbuka untuk meminta dan memberi maaf. Mekanisme ini sangat baik karena menggabungkan aspek emosional, sosial, dan budaya. Selain itu, salah satu tujuan mudik Lebaran adalah untuk memperbaiki relasi sosial dengan keluarga, tetangga, kolega dan komunitas. Dengan demikian, kohesi sosial bisa diperkuat.
Namun, penting untuk dicatat bahwa kohesi sosial yang terbentuk selama Idulfitri cenderung bersifat temporer. Setelah masa liburan berakhir, banyak individu kembali ke kehidupan urban yang ditandai oleh ritme cepat, tekanan kerja, dan interaksi sosial yang terbatas. Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai kebersamaan yang sempat menguat selama mudik berpotensi memudar. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga dan mentransformasikan kohesi sosial tersebut agar tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a'lam bi ssowab
Sumber:
https://kemenag.go.id/opini/idulfitri-mudik-dan-kohesi-sosial-sPLbA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar